Kamis, 09 Juli 2015

Rindu Ku Tak Terbendung

0 komentar
Oleh : Aspikal Landu

Ketika mataku beradu pada sebuah gambar
Mengungkit sejuta kenangan masa lalu
Terselip dari butiran butiran waktu yang terus berjalan
Mengangkat arti sebuah kehidupan.

Rindu bukan sekedar rindu
Rindu akan kenangan yang perna ku ukir
Terpahat dalam memory qalbu


Rindu ku tak terbendung
Terasa terpenjara dalam kegeoisan
Keegoisan yang meremuhkan bagai patah arang


Kumerangkak dengan penuh kasih
Memungut patahan arang
Ku bui penuh kasih
Agar bisa menyatu lagi.

Penyesalan telah datang
Seiring rinduku yang tak terbendung
Sesal akan diri ku sendiri
Yang membiarkan mu lepas dari penjara hati ku

Selasa, 07 Juli 2015

DESAIN MODEL PEMBELAJARAN LANGSUNG

0 komentar
Aspikal

Oleh ; Aspikal, S.Pd M.Pd
   A.    Kompetensi yang sesuai dengan model pembelajaran langsung
Pengetahuan yang bersifat informasi dan prosedural yang menjurus pada ketrampilan dasar akan lebih efektif jika disampaikan dengan cara pembelajaran langsung. Sintaknya adalah menyiapkan siswa, sajian informasi dan prosedur, latihan terbimbing, refleksi, latihan mandiri, dan evaluasi. Cara ini sering disebut dengan metode ceramah atau ekspositori (ceramah bervariasi).
Kompetensi (competency) adalah kata baru dalam bahasa Indonesia yang artinya setara dengan kemampuan atau pangabisa dalam bahasa Sunda. Siswa yang telah memiliki kompetensi mengandung arti bahwa siswa telah memahami, memaknai dan memanfaatkan materi pelajaran yang telah dipelajarinya. Dengan perkataan lain, ia telah bisa melakukan (psikomotorik) sesuatu berdasarkan ilmu yang telah dimilikinya, yang pada tahap selanjutnya menjadi kecakapan hidup (life skill). Inilah hakikat pembelajaran, yaitu membekali siswa untuk bisa hidup mandiri kelak setelah ia dewasa tanpa tergantung pada orang lain, karena ia telah memiliki komptensi, kecakapan hidup. Dengan demikian belajar tidak cukup hanya sampai mengetahui dan memahami.Kompetensi siswa yang harus dimilki selama proses dan sesudah pembelajaran adalah kemampuan kognitif (pemahaman, penalaran, aplikasi, analisis, observasi, identifikasi, investigasi, eksplorasi, koneksi, komunikasi, inkuiri, hipotesis, konjektur, generalisasi, kreativitas, pemecahan masalah), kemampuan afektif (pengendalian diri yang mencakup kesadaran diri, pengelolaan suasana hati, pengendalian impulsi, motivasi aktivitas positif, empati), dan kemampuan psikomotorik (sosialisasi dan kepribadian yang mencakup kemampuan  argumentasi, presentasi, prilaku). Istilah psikologi kontemporer, kompetensi / kecakapan yang berkaitan dengan kemampuan profesional (akademik, terutama kognitif) disebut dengan hard skill, yang berkontribusi terhadap sukses individu sebesar 40 % . Sedangkan kompetensi lainnya yang berkenaan dengan afektif dan psikomotorik  yang berkaitan dengan kemampuan kepribadian, sosialisasi, dan pengendalian diri    disebut dengan soft skill, yang berkontribusi sukses individu sebesar 60%. Suatu informasi yang sangat penting dan sekaligus peringatan bagi kita semua.

   B.     Spesifikasi indikator model pembelajaran langsung
1.    Klarifikasi tujuan dan motivasi
a.       Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa .
b.      Guru menyatakan dengan jelas apa yang akan dipelajari selama pelajaran.
c.       Pernyataan sederhana tentang apa yang diinginkan guru agar siswa dapat menguasai atau melakukan sesuatu.
2.    Presentasi atau demostrasi
a.       Guru mendemonstrasikan keterampilan dengan benar atau mempresentasikan pengetahuan dengan efektif.
b.      Berlangsung dalam langkah-langkah kecil, berhenti pada akhir dari tiap langkah untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan kognitif tingkat rendah.
3.    Latihan terbimbing
a.       Guru memberi latihan terbimbing untuk meningkatkan daya serap, membuat keterampilan lebih otomatis dan menunjang transfer ke situasi-situasi baru.
b.      Latihan pendek dan bermakna: latihan kecil dengan waktu pendek atau menyederhanakan keterampilan komplek, namun tidak mengubah pola keseluruhannya.
c.       Latihan blok direkomendasikan untuk belajar keterampilan baru, karena latihan panjang dapat menimbulkan kebosanan.
d.      Perhatian terhadap tahap awal latihan sangat penting karena banyak siswa secara tidak sadar menggunakan cara-cara yang salah.
4.    Memeriksa pemahaman dan umpan balik
a.       Guru memeriksa pemahaman siswa, apakah siswa telah melakukan tugas dengan benar kemudian memberikan umpan balik.
b.      Setiap langkah diberi penekanan dan guru memastikan siswa memahami tiap langkah sebelum melanjutkan materi.
c.       Umpan balik dapat secara verbal, perekaman video, pengetesan, atau komentar tertulis.
d.      Panduan umpan balik:
1)   Segera, secepat mungkin, dan spesifik
2)   Konsentraasi pada perilaku
3)   Sesuai dengan perkembangan siswa
4)   Memberikan penghargaan/umpan balik pada kinerja yang benar.
5)   Pada umpan balik negatif, tunjukan letak kesalahan dan cara melaksanakan dengan benar.
6)   Bantu siswa fokus pada proses, bukan pada hasil.
7)   Ajari siswa untuk memberi umpan balik atau menilai diri sendiri
5.    Latihan lanjutan dan transfer
a.    Latihan peningkat pembelajaran lebih: latihan yang melampaui tahap ketuntasan awal untuk menghasilkan keotomatisan baik pada situasi baru atau dibawah tekanan.
b.    Latihan terdistribusi efektif untuk memantafkan keterampilan yang telah dimiliki.
c.    Guru memberi latihan lanjutan dengan memusatkan perhatian pada transfer keterampilan dan pengetahuan tersebut ke situasi yang lebih komplek.

   C.     Pengembangan sistem pembelajaran model pembelajaran langsung
Guru menyusun lingkungan pembelajaran secara sangat ketat dan diharapkan siswa jadi pengamat dan pendengar seksama.
Salah satu yang harus diperhatikan khusus adalah latihan mandiri. Latihan mandiri berupa pekerjaan rumah, pekerjaan sekolah, atau seatwork, memberi kesempatan siswa untuk menerapkan sendiri keterampilan-keterampilan baru yang diperolehnya. Latihan mandiri seharusnya dipandang sebagai latihan lanjutan atau memperpanjang waktu belajar dan bukan pengajaran lanjutan.
Tiga panduan umum latihan mandiri berupa pekerjaan rumah :
1.    Beri tugas yang pasti dapat dikerjakan.
2.    Beri informasi kepada orang tua tentang keterlibatannya.
3.    Beri umpan balik.
Kepedulian pengelolaan kelas tertentu meliputi pengorganisasian tatanan kelas untuk mendapat efek maksimum; mempertahankan kecepatan mengajar, aliran, dan momentum yang sesuai; mempertahankan keterlibatan dan partisipasi; serta penanganan perilaku siswa yang menyimpang secara tepat.

   D.    Evaluasi/Assesmen model pembelajaran langsung
Model pengajaran langsung paling cocok digunakan untuk mengajar keterampilan dan pengetahuan yang diajarkan langkah demi langkah.
Evaluasi seharusnya memfokuskan pada tes kinerja yang lebih mengukur perkembangan keterampilan daripada tes tertulis yang mengukur pengetahuan deklaratif.
Siswa dapat menuntaskan keterampilan yang diajarkan jika guru menggunakan prosedur evaluasi berbasis kinerja.
Tugas-tugas asesmen yang berkaitan langsung dengan model pengajaran langsung memberi tekanan pada praktik dan pada pengembangan dan penggunaan pengetahuan dasar yang sesuai dan tes kinerja yang secara akurat mengukur keterampilan sederhana dan kompleks serta memberi umpan balik kepada siswa.

Senin, 06 Juli 2015

STRATEGI PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH (SPBM)

0 komentar


 oleh : Aspikal, S.Pd, M.Pd
1.   Pengertian Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah.
Dalam pelaksanaannya, Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah (SPBM), guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menetapkan topik masalah, walaupun sebenarnya guru sudah mempersiapkan apa yang hrus dibahas. Proses pembelajaran diarahkan agar siswa mampu menyelesaikan masalah secara sistematis dan logis.
Dilihat dari aspek psikologi belajar SPBM bersandarkan kepada psikologi kognitif yang berangkat dari asumsi bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman. Belajar bukan semata-mata proses menghafal sejumlah fakta, tetapi suatu proses interaksi secara sadar anatara individu dengan lingkungannya.
Dilihat dari aspek filosofis tentang fungsi sekolah sebagai arena atau wadah untuk mempersiapkan anak didik  agar dapat hidup di masyarakat, maka SPBM merupakan strategi yang memungkinkan dan sangat penting untuk dikembangkan. Hal ini disebabkan pada kenyataannya setiap manusia akan selalu dihadapkan kepada masalah, dari mulai masalah sederhana sampai kepada masalah yang komplek, dari mulai masalah pribadi sampai kepada masalah keluarga, masalah sosial kemasyarakatan, masalah negara sampai kepada masalah dunia. SPBM inilah diharapkan dapat memberikan latihan dan kemampuan setiap individu untuk dapat menyelesaikan masalah yang dihadapinya.
Dilihat dari konteks perbaikan kualitas pendidikan, maka SPBM merupakan salah satu strategi pembelajaran yang dapat digunakan untuk memperbaiki sistem pembelajaran. Kita menyadari selama ini kemampuan siswa untuk dapat menyelesaikan masalah kurang diperhatikan oleh setiap guru. Akibatnya manakala siswamenghadapi masalah, walaupun masalah itu dianngap spele, banyak siswa yang tidak dapat menyelesaikannya dengan baik. Tidak sedikit siswa yang mengambil jalan pintas, misalnya dengan mengkonsumsi obat-obat terlarang atau bahkan bunuh diri hanya gara-gara ia tidak sanggup menyelesaikan masalah.
2.   Konsep Dasar dan Karakteristik SPBM
SPBM dapat diartikan sebagai rangkaian aktivitas pembelajaran yang menekankan pada prose penyelesaian masalah yang dihadapi secara ilmiah. Terdapat 3 ciri utama SPBM, yaitu :
1.      SPBM merupakan merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran, artinya dalam implementasi SPBM ada sejumlah kegiatan yang harus dilakukan siswa. SPBM tidak mengharapkan siswa hanya sekadar mendengarkan, mencatat, kemudian menghafal materi pelajaran, akan tetapi melalui SPBM siswa aktif berpikir, berkomunikasi, mencari dan mengolah data, dan akhirnya menyimpulkan.
2.      Aktivitas pembelajaran diarahkan untuk menyelesaikan masalah. SPBM menempatkan masalah sebagai kata kunci dari proses pembelajaran. Artinya, tanpa masalah maka tidak mungkin ada proses pembelajaran.
3.      Pemecahan masalah dilakukan dengan menggunakan pendekatan berpikir secara ilmiah. Berpikir dengan menggunakan metode ilmiah adalah prose berpikir deduktif dan induktif. Proses berpikir ini dilakukan secara sistematis dan empiris. Sistematis artinya berpikir ilmiah dilakukan melalui tahapan-tahapan tertentu. Sedangkan empiris artinya prose penyelesaian masalah didasarkan pada data dan fakta yang jelas.
Untuk mengimplementasikan SPBM, guru perlu memilih bahan pelajaran yang memiliki permasalahan yang dapat dipecahkan. Permasalahan tersebut bisa diambil dari buku teks atau dari sumber-sumber lain misalnya dari peristiwa yang terjadi di lingkungan sekitar, dari peristiwa dalam keluarga atau dari peristiwa kemasyarakatan.
Strategi pembelajaran dengan pemecahan masalah dapat diterapkan jika :
1.      Manakala guru menginginkan agar siswa tidak hanya sekedar dapat mengingat materi pelajaran, akan tetapi menguasai dan memahaminya secara penuh.
2.      Apabila guru bermaksud untuk mengembangkan keterampilan berpikir rasional siswa, yaitu kemampuan menganalisis situasi, menerapkan pengetahuan yang mereka miliki dalam situasi baru, mengenal adanya perbedaan antara fakta dan pendapat, serta mengembangkan kemampuan dalam membuat judgment secara objektif.
3.      ,anakala guru menginginkan kemampuan siswa untuk memecahkan masalah serta membuat tantangan intelektual siswa.
4.      Jika guru ingin mendorong siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam belajarnya.
5.      Jika guru ingin agar siswa memahami hubungan antara apa yang dipelajari dengan kenyataan dalam kehidupannya (hubungan antara teori dengan kenyataan).
3.   Hakikat Masalah dalam SPBM
          Perbedaan antara strategi pembelajaran inkuiri (SPI) dengan strategi pembelajaran berbasis masalah (SPBM) meliputi : pada jenis masalah dan tujuan yang ingin dicapai dalam pembelajaran.
Masalah dalam SPI adalah masalah yang bersifat tertutup. Artinya, jawaban dari semua masalah sudah itu sudah pasti, oleh sebab itu jawaban dari masalah yang dikaji itu sebenarnya guru sudah mengetahui dan memahaminya, namun guru secara tidak langsung menyampaikannya kepada siswa. Dalam SPI tugas guru pada dasarnya adalah menggiring siswa  melalui proses tanya jawab pada jawaban yang sebenarnya sudah pasti. Tujuan yang ingin di capai oleh SPI adalah menumbuhkan keyakinan dalam diri siswa tantang jawaban dari suatu masalah.
Sedangkan Masalah dalam SPBM adalah masalah yang bersifat terbuka. Artinya jawaban dari masalah tersebut belum pasti. Setiap siswa, bahkan guru, dapat mengembangkan kemungkinan jawaban. Dengan demikian, SPBM memberikan kesempatan pada siswa untuk bereksplorasi mengumpulkan dan menganalisis data secara lengkap untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Tujuan yang ingin dicapai oleh SPBM adalah kemampuan siswa untuk berpikir kritis, analitis, sistematis, dan logis untuk menemukan alternatif pemecahan masalah melalui eksplorasi data secara empiris dalam rangka menumbuhkan sikap ilmiah.
Hakikat masalah dalam SPBM adalah gap atau kesenjangan antara situasi nyata dan kondisi yang diharapka, atau antara kenyataan yang terjadi dengan apa yang diharapkan. Kesenjangan tersebut bisa dirasakan dari adanya keresahan, keluhan, kerisauan, atau kecemasan. Oleh karena itu, maka materi pelajaran atau topik tidak terbatas pada materi pelajaran yang bersumber dari buku saja, akan juga dapat bersumber dari peristiwa-peristiwa tertentu sesuai kurikulum yang berlaku.
Kriteria pemilihan bahan pelajaran dalam SPBM adalah :
1.      Bahan pelajaran harus mengandung isu-isu yang mengandung konflik (conflict issue) yang bisa bersumber dari berita, rekaman, video, dan yang lainnya.
2.      Bahan yang dipilih adalah bahan yang bersifat familiar dengan siswa, sehingga setiap siswa dapat mengikutinya dengan baik.
3.      Bahan yang dipilih merupakan bahan yang berhubungan dengan kepentingan orang banyak (universal), sehingga terasa manfaatnya.
4.      Bahan yang dipilih merupakan bahan yang mendukung tujuan atau kompetensi yang harus dimiliki oleh siswa sesuai dengan kurikulum yang berlaku.
5.      Bahan yang dipilih sesuai dengan minat siswa sehingga setiap siswa merasa perlu untuk mempelajarinya.
4.   Tahapan-tahapan SPBM
          John Dewey seorang ahli pendidikan berkebangsaan Amerika menjelaskan 6 langkah SPBM yang kemudian dia namakan metode pemecahan masalah (problem solving), yaitu :
1.      Merumuskan masalah, yaitu langkah siswa menentukan masalah yang akan dipecahkan.
2.      Menganalisis masalah, yaitu langkah siswa meninjau masalah secara kritis dari berbagai sudut pandang.
3.      Merumuskan hipotesis, yaitu langkah siswa merumuskan berbagai kemungkinan pemecahan sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya.
4.      Mengumpulkan data, yaitu langkah siswa mencari dan menggambarkan informasi yang diperlukan untuk pemecahan masalah.
5.      Pengujian hipotesis, yaitu langkah siswa mengambil atau merumuskan kesimpulan sesuai dengan penerimaan dan penolakan hipotesis yang diajukan.
6.      Merumuskan rekomendasi pemecahan masalah, yaitu langkah siswa menggambarkan rekomendasi yang dapat dilakukan sesuai rumusan hasil pengujian hipotesis dan rumusan kesimpulan.
David Johnson & Johnson mengemukakan ada 5 langkah SPBM melalui kegiatan kelompok, yaitu :
1.      Mendefinisikan masalah, yaitu merumuskan masalah dari peristiwa tertentu yang mengandung isu konflik, hingga siswa menjadi jelas masalah apa yang akan dikaji. Dalam kegiatan ini guru bisa meminta pendapat dan penjelasan siswa tentang isu-isu hangat yang menarik untuk dipecahkan.
2.      Mendiagnosis masalah, yaitu menentukan sebab-sebab terjadinya masalah, serta menganalisis berbagai faktor baik faktor yang bisa menghambat maupun faktor yang dapat mendukung dalam penyelesaian masalah. Kegiatan ini bisa dilakukan dalam diskusi kelompok kecil, hingga pada akhirnya siswa dapat mengurutkan tindakan-tindakan prioritas yang dapat dilakukan sesuai dengan jenis penghamba yang diperkirakan.
3.      Merumuskan alternatif strategi, yaitu menguji setiap tindakan yang telah dirumuskan melalui diskusi kelas. Pada tahapan ini setiap siswadidorong untuk berpikir mengemukakan pendapat dan argumentasi tentang kemungkinan setiap tindakan yang dapat dilakukan.
4.      Menentukan dan menerapkan strategi pilihan, yaitu pengambilan keputusan tentang strategi mana yang dapat dilakukan.
5.      Melakukan evaluasi, baik evaluasi proses maupun evaluasi hasil. Evaluasi proses adalah evaluasi tehadap seluruh kegiatan pelaksanaan kegiatan, sedangkan evaluasi hasil adalah evaluasi terhadap akibat dari penerapan strategi yang diterapkan.
Sesuai dengan tujuan SPBM, yaitu untuk menumbuhkan sikap ilmiah dari beberapa bentuk SPBM yang dikemukakan para ahli, maka secara umum SPBM dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut, yaitu:
1.      Menyadari masalah.
Implementasi SPBM harus dimulai dengan kesadaran adanya maslah yang harus dipecahkan. Pada tahapan ini guru membimbing siswa pada kesadaran adanya kesenjangan atau gap yang dirasakan oleh manusia atau lingkungan sosial. Kemampuan yang harus dicapai siswa pada tahapan ini adalah siswa dapat menentukan atau menangkap kesenjangan yang terjadi dari berbagai fenomena yang ada. Mungkin pada tahap ini siswa dapat menemukan kesenjangan lebih dari satu, akan tetapi guru dapat mendorong siswa agar menentukan satu atau dua kesenjangan yang pantas dikaji baik melalui kelompok besar atau kelompok kecil atau bahkan individual.
2.      Merumuskan masalah.
Bahan pelajaran dalam bentuk topik yang dapat dicari dari kesenjangan, selanjutnya difokuskan pada masalah apa yang pantas dikaji. Rumusan masalah sangat penting, sebab selanjutnya akan berhubungan dengan kejelasan dan kesamaan persepsi tentang masalah dan berkaitan dengan data-data apa saja yang harus dikumpulkan untuk menyelesaikannya. Kemampuan yang diharapkan dari siswa dalam langkah ini adalah siswa dapat menentukan prioritas masalah. Siswa dapat memanfaatkan pengetahuannya untuk mengkaji, merinci, dan menganalisis masalah sehingga pada akhirnya muncul rumusan masalah yang jelas, spesifik, dan dapat dipecahkan.
3.      Merumuskan hipotesis.
Sebagai proses berpikir ilmiah yang merupakan perpaduan dari berpikir deduktif dan induktif, maka merumuskan hipotesis merupakan langkah penting yang tidak boleh ditinggalkan. Kemampuan yang diharapkandari siswa dalam tahapan ini adalah siswa dapat menentukan sebab akibat dari masalah yang ingin diselesaikan. Melalui analisis akibat inilah pada akhirnya siswa diharapkan dapat menentukan berbagai kemungkinan penyelesaian masalah. Dengan demikian, upaya yang dapat dilakukan selanjutnya adalah mengumpulkan data yang sesuai dengan hipotesis yang diajukan.
4.      Mengumpulkan data.
Sebagai proses berpikir empiris, keberadaan data dalam proses berpikir ilmiah merupakan hal yang sangat penting. Sebab, menentukan cara penyelesaian masalah sesuai hipotesis yang diajukan harus sesuai dengan data yang ada. Proses berpikir ilmiah bukan proses berimajinasi akan tetapi proses yang di dasarkan pada pengalaman. Oleh karena itu, dalam tahapan ini siswa didorong untuk mengumpulkan data yang relevan. Kemampuan yang diharapkan pada tahap ini adalah kecakapan siswa untuk mengumpulkan memilah data, kemudian memetakan dan menyajikannya dalam berbagai tampilan sehingga mudah dipahami.
5.      Menguji hipotesis
Berdasarkan data yang dikumpulkan, akhirnya siswa menentukan hipotesis mana yang diterima dan mana yang ditolak. Kemampuan yang diharapkan dari siswa dalam tahapan ini adalah kecakapan dalam menelaah data dan sekaligus membahasnya untuk melihat hubungannya dengan masalah yang dikaji. Disamping itu diharapkan juga siswa dapat mengambil keputusan dan kesimpulan.
6.      Menentukan pilihan penyelesaian
Menentukan pilihan penyelesaian merupakan akhir dari proses SPBM. Kemampuan yang diharapkan dari tahapan ini adalah kecakapan memilih alternatif penyelesaian yang memungkinkan dapat dilakukan serta dapat memperhitungkan kemungkinan yang akan terjadi sehubungan dengan alternatif yang dipilihnya, termasuk memperhitungkan akibat yang akan terjadi pada setiap pilihan.
5.   Keunggulan dan Kelemahan SPBM          
          SPBM memiliki beberapa keunggulan, yaitu :
1)      Pemecahan masalah (problem solving) merupakan teknik yang cukup bagus untuk lebih memahami isi pelajaran.
2)      Pemecahan masalah (peoblem solving) dapat menantang kemampuan siswa serta memberikan kepuasan untuk menemukan kemampuan baru bagi siswa.
3)      Pemecahan masalah (problem solving) dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa.
4)      Pemecahan masalah (problem solving) dapat membantu siswa bagaimana mentransfer pengetahuan mereka untuk memahami masalah dalam kehidupan nyata.
5)      Pemecahan masalah (problem solving) dapat membantu siswa untuk mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggung jawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan. Disamping itu, pemecahan masalah itu juga dapat mendorong untuk melakukan evaluasi sendiri baik terhadap hasil maupun proses belajarnya.
6)      Melalui Pemecahan masalah (problem solving) bisa memeperlihatkan kepada siswa bahwa setiap mata pelajaran (matematika, IPA, sejarah, dan lain sebagainya), pada dasarnya merupakan cara berpikir, dan sesuatu yang harus dimengerti oleh siswa, bukan hanya sekedar belajar dari gur atau dari buku-buku saja.
7)      Pemecahan masalah (problem solving) dianggap lebih menyenangkan da disukai siswa.
8)      Pemecahan masalah (problem solving) dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk dapat berpikir kritis dan mengembangkan kemampuan mereka untuk menyesuaikan dengan pengetahuan baru.
9)      Pemecahan masalah (problem solving) dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata.
10)  Pemecahan masalah ( problem solving) dapat mengembangkan minat siswa untuk secara terus menerus belajar sekalipun belajar pada pendididkan formal telah berakhir.
Disamping keunggulan, SPBM juga memiliki beberapa kelemahan yang meliputii:
1)      Manakala siswa tidak memiliki minat atau tidak mempunyai kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka mereka akan merasa enggan untuk mencoba.
2)      Keberhasilan strategi pembelajaran melalui problem solving membutuhkan cukup waktu untuk persiapan.
3)      Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk memecahkan masalah yang sedang dipelajari, maka mereka tidak akan belajar apa yang ingin mereka pelajari.
 

Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Two Church theme by Brian Gardner Converted into Blogger Template by Bloganol dot com